Notification

×

Iklan

Iklan



'Momong Cucu' Menjadi Dongeng dan Safari Politik Yang Mempertontonkan Kepalsuan

27 Juni 2026 | Juni 27, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-27T10:56:08Z


Lampung - Lensa Monitor.com.

Panggung politik di Provinsi Lampung, mendadak riuh. Kehadiran mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rangkaian safari politiknya untuk mempromosikan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi magnet perhatian. 


Namun, riuh rendah tepuk tangan di lapangan tidak mampu menyembunyikan sebuah ironi besar yang dirasakan oleh masyarakat akar rumput. 


Bagi sebagian besar warga Lampung yang menyaksikan orasi tersebut, kunjungan ini bukan lagi tentang pendidikan politik, melainkan sebuah pertunjukan tentang ketidakonsistenan seorang mantan pemimpin negara.


​Masyarakat hari ini tidak buta, tidak pula amnesia, publik masih ingat betul kalimat teduh dan manis yang pernah diucapkan Jokowi menjelang akhir masa jabatannya: bahwa setelah purnatugas, ia hanya ingin pulang ke Solo, hidup tenang, dan 'momong cucu'. 


Narasi yang begitu membumi, humanis, dan sewajarnya seorang negarawan yang tahu kapan harus datang dan kapan harus pergi.

​Namun, apa yang disaksikan masyarakat Lampung justru sebaliknya. 


Alih-alih duduk tenang di Solo, Jokowi justru turun ke lapangan, menggenggam mikrofon, dan berorasi layaknya juru kampanye pemilu yang sedang mengejar ambisi elektoral. 


Ketidakonsistenan antara ucapan dan perbuatan ini dinilai masyarakat sebagai wujud perilaku yang negatif. Ketika kata-kata seorang pemimpin tidak lagi bisa dipegang, maka fondasi kepercayaan publik akan runtuh seketika.

​Dalam orasinya di hadapan massa di Lampung, Jokowi dengan bersemangat menggemakan bahwa PSI adalah partai masa depan yang memegang teguh amanat rakyat. Ia memosisikan diri—yang notabene kini dikenal sebagai sosok sentral di balik layar atau pembina informal partai tersebut—sebagai penjamin moral bagi partai bernuansa merah itu.


​Namun, di sinilah letak paradoksnya. Bagaimana mungkin publik bisa mempercayai sebuah partai akan membawa amanat rakyat dengan jujur, jika sosok yang mempromosikannya justru sedang mempertontonkan kepalsuan nyata atas janji pribadinya sendiri?


​"Bagaimana mungkin bisa membangun sebuah partai agar menjadi besar dan dipilih rakyat, jika keteladanan orang di dalamnya dipenuhi oleh inkonsistensi?"


​Pertanyaan retoris ini mengemuka di antara obrolan warga pasca-kunjungan. Membangun partai besar yang dicintai rakyat membutuhkan komitmen nilai, keluhuran sikap, dan keteladanan. Ketika sebuah gerbong politik digerakkan oleh kepalsuan narasi, maka apa yang ditawarkan kepada rakyat tak lebih dari sekadar fatamorgana politik.

​Sikap ngotot Jokowi yang tetap terjun ke episentrum politik praktis ini memicu penilaian miring yang tak terhindarkan: ini adalah wujud nyata dari kemaruknya akan kekuasaan (power syndrome) dan syahwat politik dinasti. 


Tarikan garis politiknya terlalu benderang untuk diabaikan. Dengan putra bungsunya, Kaesang Pangarep, yang menjabat sebagai Ketua Umum PSI, safari politik Jokowi ke daerah-daerah seperti Lampung tak lain adalah upaya 'jemput bola' demi mengamankan eksistensi dinastinya di panggung nasional.


​Jokowi tampaknya masih menganggap dirinya sebagai sosok yang maha-berkuasa, seorang solidarity maker yang dengan sekali jentikan jari mampu mengendalikan dan mengarahkan suara rakyat ke mana pun ia mau. 


Ada kesan superioritas yang tertinggal, sebuah keyakinan keliru bahwa pesona masa lalunya bisa terus digadaikan untuk melegitimasi kepentingan kelompok kecilnya.


​Satu hal yang tampaknya dilupakan oleh Jokowi dalam hiruk-pikuk safari politiknya di Lampung: dunia bergerak maju, dan masyarakat terus bertumbuh. Beliau mungkin tidak menyadari atau sengaja menafikan sebuah hukum alam yang absolut dalam politik: bahwa seseorang itu ada masanya, dan setiap masa lain orangnya.


​Waktu bagi Jokowi sebagai nakhoda utama republik ini telah usai. Memaksakan diri untuk tetap menjadi dalang di tengah-tengah panggung yang seharusnya diisi oleh generasi baru hanya akan merusak warisan (legacy) yang telah ia bangun selama sepuluh tahun memimpin. 


Rakyat Lampung, dan Indonesia pada umumnya, kini sedang menatap masa depan, bukan lagi masa lalu yang dipaksakan untuk hadir kembali dalam bentuk inkonsistensi.


​Kunjungan ke Lampung hari ini boleh saja usai dengan sorak-sorai kepartaian. Namun, di hati masyarakat yang berpikir jernih, kunjungan itu meninggalkan catatan hitam tentang bagaimana sebuah ambisi kekuasaan mampu mengubah komitmen 'momong cucu' menjadi topeng politik yang penuh kepalsuan.


Disclaimer : Berita opini

Oleh: Bambang Irawan Pimred Lensa Monitor

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update